Friday, January 6, 2017

Lama Tak Muncul Di Tv Ternyata Luna Maya Sibuk Main Film Filosofi Kopi 2

Lama Tak Muncul Di Tv Ternyata Luna Maya Sibuk Main Film Filosofi Kopi 2

Jakarta - Dua pemuda di dalam kedai kopi itu tengah asyik berbincang. Salah satunya, yang mengenakan topi, berdiri di antara tumpukan kardus. Pria lainnya, yang berambut gondrong, tengah membersihkan lantai. Tapi obrolan yang menarik itu mendadak diganggu wanita cantik.

Ia tak sekadar datang memotong perbincangan. Perempuan itu juga membawa seekor tikus untuk menakuti kedua rekannya. Jody, yang berdiri di antara tumpukan kardus, langsung terjengkang. Perempuan itu tertawa lantang. Ben ikut terhibur rekannya dikerjai.

“Okeee bungkus!” teriakan itu membahana, membuyarkan adegan antara dua pria dan satu wanita di dalam kafe itu. Mereka patuh, meski tawa pun masih bersambung tergelak.

Itu sekilas dari suasana syuting Filosofi Kopi 2, atau Filosofi Kopi: Ben & Jody.

Rio Dewanto masih memerankan Jody, Chicco Jerikho masih sebagai Ben. Bedanya, wanita cantik yang ada di tengah mereka kini bukan lagi Julie Estelle. Tarra, wanita independen yang kini menjadi rekan mereka membesarkan kedai Filosofi Kopi, adalah Luna Maya.


Lama Tak Muncul Di Tv Ternyata Luna Maya Sibuk Main Film Filosofi Kopi 2
**Luna Maya di tengah syuting Filosofi Kopi 2.

Sementara pria yang dari kursinya meneriakkan ‘bungkus!’ adalah Angga Dwimas Sasongko.

Siang itu, Kamis (5/1) merupakan hari ke-tiga syuting Filosofi Kopi 2, di kedai Filosofi Kopi, kawasan Blok M, Jakarta. Suasana syuting tidak serius. Meski Angga yang menjadi pengarah adegan, tidak berarti ia yang paling berkuasa. Luna masih berani menggodanya.

Selagi kru lain membenahi atribut dan peralatan set, ia bermain-main dengan tikus kecil di tangannya. Kelamaan ia menyadari, Angga sekelebat berlari saat menyambanginya di set dan melihatnya masih memegang tikus itu. “Oh, takut?” gumam Luna yang sempat kebingungan.

Tapi itu justru memberinya ide iseng. Saat Angga akhirnya tenang dan kembali berani masuk ke set, Luna mendekatinya dengan tikus itu lagi. Sang sutradara yang biasanya serius memantengi aksi artisnya lewat layar kecil di kursinya itu pun kembali berlari.

Seisi ruangan tergelak.

Tapi seasyik apa pun kru dan pemain mengerjai Angga, mereka harus berhenti sejenak. Bukan karena matahari terik berganti menjadi mendung. Tapi hari itu tim Filosofi Kopi 2 mengundang media untuk pertama kalinya. Melihat proses syuting, berdiskusi soal konsepnya.


Lama Tak Muncul Di Tv Ternyata Luna Maya Sibuk Main Film Filosofi Kopi 2
**Rio Dewanto di tengah syuting Filosofi Kopi 2.

Sekitar satu jam konferensi pers itu digelar. Setelah itu, kru langsung kembali menyiapkan set. Kaca-kaca kedai kembali ditutup koran bekas, pintunya kembali ditutup. Artis kembali mengenakan busana dan properti. Angga kembali duduk di kursinya dan membuka adegan.

Kali ini hanya Ben. Ia terlihat sedang mengarahkan tukang untuk merenovasi kedai kopinya. Kalau adegan sebelumnya berakhir sempurna, kali ini ia harus banyak mengulang. Sedikit-sedikit Angga berteriak: “Cut!” Ia tak puas dengan apa yang Chicco lakukan di adegannya.

“Ben enggak usah banyak ngomong, langsung saja pindahin meja. Yuk, rolling ulang" kata Angga mengarahkan lewat alat komunikasi. Di lain waktu ia berkata, "Cut! Ben enggak gitu!”

Saat ia akhirnya mulai geregetan karena Chicco tak menangkap maksudnya, Angga memanggil, “Ben, sini Ben.” Chicco pun menurut, menghampirinya. Angga lalu mengarahkan dengan memperlihatkan bagaimana sebenarnya yang ia inginkan untuk adegan yang diperankan Chicco.

Lama Tak Muncul Di Tv Ternyata Luna Maya Sibuk Main Film Filosofi Kopi 2
**Chicco Jerikho di tengah syuting Filosofi Kopi 2.

Ia lalu meminta Chicco mengulangnya kembali, sesuai yang ia inginkan.

Kejadian itu tak sekali terlihat. Pada adegan lain, Chicco kembali dapat teguran. Angga yang ‘gemas’ langsung beranjak dari kursinya dan mendatangi tempat set yang berjarak sekitar 10 meter darinya. Di sana ia langsung mengarahkan aktor-aktornya.

Tapi Angga bukan sutradara yang selalu serius. Di kursi singgasananya, ia juga sesekali mengecek ponselnya, membuka media sosial, atau membalas pesan. Meskipun, fokusnya tetap pada bagaimana bintang-bintangnya berakting di layar monitor kecil di depannya.

Syuting di ruang publik, tak ayal menjadi magnet bagi masyarakat sekitar yang ingin menonton. Tampak penggemar silih berganti menyapa pemain dan meminta berfoto bersama. Dengan ramah, para pemain melayani permintaan itu, di sela-sela waktu istirahatnya.

Penggemar pun setia menunggu. Ada yang sengaja datang bergerombol, ada pula yang tak sengaja lewat lokasi syuting dan hanya ikut menonton sebentar. Sementara para artis, selain menyempatkan menyapa penggemar, memanfaatkan waktu menunggu giliran beraksi di depan kamera, juga untuk memainkan ponsel mereka, bersenda gurau dengan kru, pun ngemil.

Filosofi Kopi 2 masih punya waktu panjang untuk syuting. “Masih ada sisa 20 hari syuting ke depan. Set di Jakarta dulu, habis itu traveling ke Bali pertengahan Januari, berlanjut ke Makassar dan Toraja,” kata Anggia Kharisma, produser Filosofi Kopi yang juga istri Angga.

Filosofi Kopi 2 menjadi lanjutan dari film pertama yang diambil dari salah satu cerita pendek berjudul Filosofi Kopi karya Dewi ‘Dee’ Lestari (2015). Kali ini cerita dikembangkan dari imajinasi Christian Armantyo dan Frischa Aswarini, pemenang kompetisi #NgeracikCerita yang diselenggarakan Visinema Pictures pada pertengahan tahun 2016.

Jenny Jusuf yang juga menjadi penulis skenario Filosofi Kopi pertama, kembali menulis kini. Ia berkolaborasi dengan M Irfan Ramli (Cahaya Dari Timur dan Surat Dari Praha). Filosofi Kopi: Ben & Jody dijadwalkan tayang pada Juli 2017


Jenis Narkotik Baru Tembakau Gorila Mengakibatkan Pro Dan Kontra

Jenis Narkotik Baru Tembakau Gorila Mengakibatkan Pro Dan Kontra

Jakarta - Tembakau sintetis yang dikenal dengan Cap Gorila menuai Pro dan Kontra dari elemen pemerintah. Hingga kini belum ada kepastian hukum apakah tembakau sintetis itu masuk sebagai golongan narkotik jenis baru.

Jenis Narkotik Baru Tembakau Gorila Mengakibatkan Pro Dan Kontra
**Selama Menkes belum mengesahkan gorila sebagai narkotik jenis baru, maka BNN dan kepolisian hanya menyebutnya sebagai barang yang terindikasi narkotik.

Direktur Reserse Narkoba Mabes Polri Brigadir Jenderal Eko Daniyanto justru mempertanyakan sejak kapan gorila ditetapkan sebagai narkotik jenis baru.

"Kalau ditemukan jenis baru berarti itu sudah disahkan oleh Menteri Kesehatan yang diajukan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) ke Menteri Kesehatan atau BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), kecuali kalau memang sudah disahkan berarti tidak BOLEH digunakan," ujarnya saat dihubungi oleh situs ternama di indonesia, Jumat (6/1).

Menurut Eko, selama Menteri Kesehatan belum mengesahkan gorila sebagai narkotik jenis baru, maka BNN ataupun kepolisian hanya dapat menyebutnya sebagai barang yang terindikasi narkotik jenis baru.

Para pengguna gorila, kata Eko, juga tidak dapat ditindak secara hukum selama barang tersebut belum tercantum dalam Undang Undang (UU) nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotik.

Eko sendiri belum dapat memastikan dari mana bahan kimia yang digunakan oleh produsen gorila. Berdasarkan informasi yang dia himpun, bahan kimia itu berasal dari Amerika Latin. Namun dia sendiri belum bisa memastikan kebenaran kabar itu.

"Mana ada di Indonesia yang bisa mengantarkan berkas gorila, jaksa juga tidak mau menerima," tuturnya.

Eko menilai, dampak dari tembakau gorila yang masuk dalam synthetic cannabinoid lebih parah dari ganja. Hal itu disebabkan tembakau gorila harus disemprot oleh zat kimia. Namun, Eko enggan menjelaskan lebih lanjut zat kimia yang digunakan itu.

Pendapat berbeda diutarakan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BNN Kombes Slamet Pribadi. Dia menilai, tembakau gorila merupakan narkotika jenis baru karena terdapat kandungan AB-CHMINACA. Kandungan itu disebut memiliki efek yang sama layaknya ganja yang disemprot dengan cairan kimia.

baca juga : 20 Wanita WNA Dijerat Imigrasi Karena Terlibat Prostitusi

Proses menunggu keputusan dari Kemenkes juga menjadi kendala bagi BNN. Slamet mengatakan, sudah hampir satu tahun rekomendasi soal penetapan gorila menjadi narkotika jenis baru belum juga diputuskan.

"Kami masih menunggu keputusan Kemenkes. Belum ada penetapan synthetic cannabinoid ini masuk dalam Undang-undang Narkotika," ucapnya beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, pihak BPOM juga belum pernah melakukan uji laboratorium secara langsung terkait tembakau gorila.
seorang sumber yang enggan disebut namanya mengatakan, BPOM hanya menerima rekomendasi dari hasil uji lab yang dilakukan oleh BNN.

Pengguna Ditangkap

Meski belum masuk dalam UU Narkotika namun, aksi penangkapan terhadap pengguna tembakau gorila pernah dilakukan di wilayah Jakarta Selatan.

Kasat Narkoba Polres Jakarta Selatan Kompol Vivick Tjangkung mengatakan, pihaknya sudah menangkap setidaknya 3 kali selama tujuh bulan belakangan terkait penggunaan tembakau gorila. Meski demikian, penindakan itu tidak menggunakan UU Narkotik.

"Tidak ada pembuktian dalam UU kita, sebenarnya kita bisa saja menggunakan UU kesehatan tapi lebih menjerat kepada penyuplai bukan pengguna," ujarnya.

Menurut Vivick, pemerintah seharusnya lebih cepat bertindak menentukan soal hukum bagi pengguna tembakau gorila itu. Dia menilai, efek dari bahan kimia di tembakau gorila lebih banyak menyasar remaja.


20 Wanita WNA Dijerat Imigrasi Karena Terlibat Prostitusi

20 Wanita WNA Dijerat Imigrasi Karena Terlibat Prostitusi

Jakarta - Sebanyak 20 wanita warga negara asing terjaring operasi pengawasan yang dilakukan Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Barat, Jumat kemarin. Para wanita tersebut diduga melanggar aturan keimigrasian karena bekerja di tempat hiburan malam dan diduga terlibat prostitusi.


20 Wanita WNA Dijerat Imigrasi Karena Terlibat Prostitusi
**Pihak imigrasi menangkap 20 wanita asal China, Vietnam, dan Thailand yang masuk Indonesia dengan izin turis, namun diduga justru bekerja di bidang prostitusi.

"Mereka datang dengan izin turis, namun di Indonesia bekerja sebagai pemandu karaoke, pijat terapi, dan penari," kata Abdul Rahman, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Barat, di Jakarta, Sabtu (7/1).

Puluhan wanita tersebut terdiri dari tiga orang warga negera Vietnam, tiga orang dari Thailand, dan 14 orang berasal dari China. Usia mereka rata-rata 19 hingga 40 tahun.

"Rata-rata mereka sudah ada di Indonesia selama dua bulan sampai tiga bulan," kata Abdul.

Abdul berkata, pihak imigrasi menduga para wanita itu melakukan kegiatan prostitusi dengan tarif Rp1,5 juta hingga Rp5 juta. Pada operasi penindakan, petugas imigrasi menyita sejumlah barang bukti, antara lain 20 paspor, telepon genggam, dan alat kontrasepsi.

Penyelidikan lebih lanjut, kata Abdul, dilakukan institusinya dan kepolisian untuk mendeteksi kemungkinan adanya mucikari dan orang-orang yang membawa para wanita tersebut ke Indonesia.

Dari operasi rutin yang menyasar tempat hiburan malam, tim penyidik kemudian mengembangkan hingga ke tempat kos-kosan dan tempat hiburan malam di sekitar Grogol.

Benget Steven, kepala seksi Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Barat mengatakan, para wanita negara asing yang terjerat tinggal di kawasan Mangga Besar dan mereka bekerja di empat tempat hiburan di wilayah Grogol dan Kota.

Menurut Benget, para wanita negara asing itu berangkat kerja dengan diantar sopir pribadi. Beberapa dari mereka ditangkap saat hendak berangkat kerja, dan sebagian lainnya ketika berada di ruang karaoke.

Para wanita yang terjaring diduga melanggar Pasal 122 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Isi pasal tersebut tentang izin tinggal keimigrasian.

Menurut beleid itu, orang asing yang melanggar keimigrasian dapat dikenakan tindakan administratif keimigrasian berupa deportasi dan penangkalan atau sanksi pidana dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp500 juta.

BI Tidak Persoalkan Tarif STNK Naik, Tapi

BI Lebih Takut Inflasi Akibat Tarif Listrik 

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif administrasi pembuatan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) hingga Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) yang mencapai tiga kali lipat tidak akan berkontribusi besar terhadap kenaikan inflasi.

"Tadinya saya khawatir kalau penyesuaian harga administrasi STNK itu bisa menekan inflasi. Tapi setelah diklarifikasi ternyata bukan pajak STNK nya yang naik, hanya administrasinya. Jadi saya tidak khawatir dengan itu," ujar Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo di Mahkamah Agung, Jumat (6/1).

Pada awal bulan ini, masyarakat harus dibebani oleh sejumlah kenaikan harga barang dan jasa. Tak hanya tarif STNK, lonjakan harga juga terjadi untuk sejumlah bahan pangan, Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga layanan listrik golongan 900 VA. Akibat faktor tersebut, Agus memperkirakan, angka inflasi di awal tahun ini bisa mencapai level 0,7 persen.


BI Tidak Persoalkan Tarif STNK Naik, Tapi
**Bank Indonesia (BI) menilai kenaikan tarif administrasi STNK dan BPKB tidak terlalu memberatkan karena bukan termasuk pajak.

"Kami mungkin perkirakan inflasi di Januari di tingkat 0,6-0,7 persen, kalau yang di Desember kami melihat inflasi terkendali dengan baik karena di sistem kami itu diperkirakan hanya 0,31. Ternyata inflasinya 0,42 tapi dibandingkan lima tahun terakhir itu termasuk rendah di Desember," lanjutnya.

Kendati demikian, Agus mengatakan secara tren, inflasi di Indonesia cenderung rendah selama lima tahun terakhir. Inflasi yang rendah ini lebih disebabkan oleh penurunan harga-harga barang dan jasa secara global akibat menurunnya permintaan.

baca juga : Ternyata Tarif STNK Di UP..!! Demi Naikkan Honor Petugas Samsat

Namun secara domestik, BI juga perlu mewaspadai kemungkinan inflasi meningkat kembali akibat sejumlah kebijakan pemerintah yang berpotensi membuat harga-harga merangkak naik.

"Jadi kita di tahun 2017 harus waspada, dan waspadanya itu adalah karena subsidi listrik akan dikurangi. Akan ada kenaikan harga elpiji, akan ada BBM satu harga, yang pasti akan berdampak pada inflasi," pungkasnya

Ternyata Tarif STNK Di UP..!! Demi Naikkan Honor Petugas Samsat

Ternyata Tarif STNK Di UP..!! Demi Naikkan Honor Petugas Samsat

Jakarta - Di balik kenaikan biaya pengurusan surat kendaraan bermotor, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menjanjikan peningkatan insentif bagi petugas pelayanan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat).


Ternyata Tarif STNK Di UP..!! Demi Naikkan Honor Petugas Samsat

** Kepolisian Republik Indonesia mengklaim, hal itu dilakukan demi menekan pungutan liar dan korupsi di pelayanan publik, serta meningkatkan pelayanan

Sebelumnya, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Polri, kenaikan biaya akan berlaku mulai hari ini, Jumat, 6 Januari 2017.

Boy Rafli Amar, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Markas Besar (Mabes) Polri, mengatakan jika biaya pengurusan masih berdasarkan aturan yang lama, PP Nomor 50 Tahun 2010, honor pelayanan Samsat hanya Rp300 ribu per bulan per orang.

"[Honor] diberikan tidak langsung per bulan. Biasanya diberikan dirapel karema ada proses administrasi yang harus diselesaikan," tutur Boy dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Jumat (6/1).

Kecilnya insentif yang diterima menjadi pemicu munculnya pungutan liar (pungli) dan korupsi di pelayanan publik. Padahal, dengan naiknya biaya pengurusan surat kendaraan bermotor, masyarakat dijanjikan peningkatan pelayanan.

"Berkaitan dengan akuntabilitas dan transparansi petugas-petugas kita, untuk meminimalisir pungli, kita harus sesuaikan insentifnya. Jadi tidak BOLEH lagi mengutip-ngutip [uang tambahan]," ujarnya.

Terkait besaran honor baru, Boy mengungkapkan Polri masih harus membicarakan lebih lanjut dengan Kementerian/Lembaga (K/L) terkait. Salah satunya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"[Besaran honor] dengan konsep yang baru ini masih harus dibicarakan," ujarnya.

Pada dasarnya, lanjut Boy, penerimaan biaya pengurusan surat kendaraan bermotor akan dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk perbaikan kualitas pelayanan Polri sesuai prinsip penggunaan PNBP.

Misalnya, investasi teknologi dan informasi untuk menciptakan sistem pelayanan samsat online, perbaikan bahan material dokumen surat kendaraan bermotor, dan perawatan peralatan Samsat di seluruh Indonesia.

Hal ini, lanjut Boy, sejalan dengan reformasi birokrasi yang tengah dilakukan seluruh K/L di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, termasuk Polri.

baca juga : Produsen Rokok Sangat Kecewa Keputusan Sri Mulyani soal PPN

Sebagai informasi, berdasarkan PP60/2016, kenaikan tarif pelayanan penerbitan surat kendaraan bermotor naik hingga tiga kali lipat dari tarif lama.

Sebagai contoh, biaya penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) roda dua dan roda tiga naik menjadi Rp100 ribu yang sebelumnya Rp50 ribu. Roda empat atau lebih dari sebelumnya Rp75 ribu menjadi Rp200 ribu.

Kemudian, pengurusan dan penerbitan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Roda dua dan roda tiga yang sebelumnya ditarif sebesar Rp80 ribu, kini diwajibkan membayar Rp225 ribu dan roda empat atau lebih sebesar Rp375 ribu dari sebelumnya Rp100 ribu.

Selain itu, biaya baru Penerbitan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) untuk roda dua dan roda tiga dari Rp30 ribu menjadi Rp60 ribu, dan Roda empat atau lebih dari Rp50 ribu menjadi Rp100 ribu.


Produsen Rokok Sangat Kecewa Keputusan Sri Mulyani soal PPN

Produsen Rokok Sangat Kecewa Keputusan Sri Mulyani soal PPN

Jakarta - Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) mengaku kecewa dengan keputusan pemerintah yang mengerek tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hasil tembakau dari 8,7 persen menjadi 9,1 persen.

Ketua Umum Gaprindo Muhaimin Moeftie mengatakan, sebenarnya rencana kenaikan sudah diketahui asosiasi sejak Agustus 2016 lalu kala berdiskusi dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.


Produsen Rokok Sangat Kecewa Keputusan Sri Mulyani soal PPN


Hanya saja, diskusi saat itu merumuskan kenaikan tarif PPN hasil tembakau secara bertahap dari tahun ke tahun, yakni 8,7 persen pada 2016 menjadi 8,9 persen pada 2017 dan 9,1 persen pada 2018.

"Ini yang kami sayangkan, mulanya bertahap 8,7 persen lalu 8,9 persen di tahun 2017 barulah 9,1 persen di tahun 2018. Rupanya pemerintah tetap ingin langsung 9,1 persen," ujar Muhaimin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (6/1).

Otomatis, lanjut Muhaimin, langkah industri rokok dalam negeri di tahun 2017 akan kian 'terseok'. Pasalnya, tak hanya meningkatkan tarif PPN hasil tembakau, pemerintah juga memasang tarif cukai industri hasil tembakau (IHT) baru di tahun ini.

"Berat beban kami tahun ini, jangankan kenaikan tarif PPN. Kami juga dikenakan kenaikan cukai rata-rata 10,54 persen. Itu baru rata-rata, nyatanya untuk golongan tertentu lebih tinggi lagi," imbuh Muhaimin.

Sebelumnya, pemerintah resmi menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) hasil tembakau tahun ini dari 8,7 persen menjadi 9,1 persen. 

Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 207/PMK.010/2016 tentang Perubahan atas PMK Nomor 174/PMK.03/2015 tentang Tata Cara Penghitungan dan Pemungutan PPN atas Penyerahan Hasil Tembakau.

Beleid tersebut ditandatangani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 28 Desember 2016 lalu dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2017.

Mendapat Serangan

Tak cukup dari sisi tarif, industri rokok juga dipastikan akan terus-menerus mendapat serangan dari gerakan sosial anti-rokok, baik yang diterapkan oleh pemerintah maupun oleh lembaga kesehatan dan lembaga anti-rokok.

Sentimen pembatasan ruang untuk merokok dari pemerintah daerah (pemda) dipastikan akan kian galak kepada perokok. Belum lagi, ada pelarangan penjualan dan pemasangan iklan rokok.

Senada dengan Gaprindo, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) turut menyayangkan keputusan pemerintah yang langsung menginjak gas kenaikan tarif PPN hasil tembakau ke angka 9,1 persen.

"Kami tahu pemerintah butuh pemasukan tapi industri rokok jadi makin terbebani seharusnya diberi nafas dengan kenaikan bertahap karena ada kenaikan cukai juga," kata Ketua GAPPRI Ismanu Sumiran.

Industri rokok, kata Ismanu, dipastikan akan berat bukan hanya karena sentimen tarif PPN dan cukai yang terkerek naik, namun perekonomian yang masih memprihatinkan. Bahkan industri rokok disebutnya sudah pincang sejak tiga tahun belakangan.

Sebagai bukti, tahun lalu saja, produksi industri rokok terjun sekitar enam miliar batang, dari 348 miliar batang menjadi hanya 342 miliar batang.

"Ini membuktikan tahun ke tahun industri rokok kian rapuh, produksinya menurun terus," tutupnya.